Sabtu 21 Maret 2009 adalah hari yang mungkin yang tak akan gw lupakan. Hari ini DANU Akbar akan segera dilakukan. Pada hari itu, sebenernya bisa milih mau ikut danu KIR atau eASY, akhirnya dengan penuh pertimbangan gw memilih untuk ikutan danu KIR.
Sebelum memulai danu, kami para anggota KIR membagi – bagi anggota menjadi 4 kelompok. Gw dikelompokkan bersama RJ dan Teh Galis. Setelah itu, teh galis langsung mencatat alamat – alamat yang akan kami tuju. Gw, RJ, dan Teh Galis kebagian untuk ngedanu ke daerah indraprasta dan sekitarnya.
Jeng – jeng – jeng… Here we go..
Kami memulai perjalanan dengan menaiki angkot 08 yang menuju arah indraprasta dan sekitarnya. Di dalam angkot kami udah bertanya – tanya tentang nama – nama jalan yang dituju, tapi ternyata sang sopir tidak mengetahui jalan – jalan yang kami tuju. Akhirnya RJ mengatakan “gimana kalau kita ke rumah deden dulu. abis dari rumah deden baru kita nanya – nanya nama jalan ke ibunya. gimana?” gw pun ngejawab “Oh iya bener.” teh galis pun ikut menyetujuinya. Kami pun turun di depan jalan dewi amba tempat teh deden tinggal. Sesampainya di rumah teh deden kami berulangkali mengatakan “Assalamualaikum”, setelah sekian lama akhirnya seseorang keluar dan menanyakan maksud dan tujuan kami. RJ pun menjawab “Orang tua denisanya ada?” si bibi pun menjawab “Oh lagi keluar dua duanya, mungkin nanti 1 jam lagi udah pulang” Akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan pencarian ke rumah yang lain lagi. Ternyata jalan yang kami tuju selanjutnya berhadapan dengan jalan dewi amba ini. Kami pun masuk ke jalan yang dituju, Sampai akhirnya kami menemukan rumah tujuan dan berkata “Misi, Assalamualaikum.” Namun tidak ada sedikit jawaban pun yang kami dengar, padahal kami udah dapet ngedenger suara TV dari dalam rumah tersebut. Berulangkali kami mengucapkan salam, namun tidak seorangpun yang mendengarnya, sampai akhirnya terdengar suara adzan yang berasal dari mesjid di dekat rumah yang dituju. RJ pun mengatakan “Gimana kalau kita sholat dulu, mungkin dikasih kemudahan.” GW dan teh galis pun setuju. Setelah solat kami memutuskan untuk tetap datang ke rumah itu kembali. Tapi tetap aja gx ada jawaban dari dalam rumah. Sampai akhirnya kami memutuskan untuk makan dulu dan melanjutkan pencarian ke rumah selanjutnya. Kami makan ke sebuah warung baso yang bisa dibilang mahal, padahal gx enak – enak banget euy. Setelah selesai, kami pun melanjutkan jalan setapak yang bisa dibilang lumayan jauh. Setelah mondar mandir di jalan yang sama, kami berhasil menemukan rumah nan indah dan luas yang kami tuju. Singkat cerita akhirnya capek kami dapat terbalas oleh dana yang diberikan ( Bukan kami make uangnya ya!). Setelah itu kami pun memutuskan untuk kembali ke rumah teh deden, dan ternyata ortunya udah pulang (yeeessss…). Disitu kami mendapatkan dana yang makin membuat kami semangat.
Akhir dari perjalanan ini, kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang membantu (supir agkot, pembantu teh deden, pak haji yang salah ngasih petunjuk, satpam, tukang baso, tukang bangunan di lantai 2, tukang jaga warung yang padahal rumah yang kami tanyakan berada tepat disampingnya, dan juga masih banyak lainnya). Kami juga memperoleh hasil yang sangat memuaskan. Disamping itu, kulit yang terbakar juga merupakan tanda kerja keras kami. Kami juga tak lupa mengambil sebuah foto yang melambangkan bahwa kami tetap harus ceria seperti biasanya. here it is :

Setelah itu, Gw, Digun, dan RJ pun pergi ke HAAJ di cikini jakarta. Akhirnya gw pun dapat beristirahat dengan tenang pada pukul setengah 11 malam. Hari ini merupakan bagian dari lukisan hidup gw yang penuh warna dan tak pernah terlupakan.











